Quantum Sarana Medik issuu.com link
Quantum Sarana Medik Youtube Channel
Quantum Sarana Medik Instagram
Quantum Sarana Medik Twitter
Quantum Sarana Medik Facebook Page
Add Line Chat
Antibiotik, Apakah Selalu Dibutuhkan (3)
 26 Maret, 2017


Sebagai satu obat, antibiotika tentu saja memiliki efek samping selain efek utamanya sebagai antibakteri. Efek samping yang sering dijumpai setelah penggunaan antibiotika antara lain, gangguan saluran pencernaan yang diwujudkan sebagai mual, muntah, kembung, dan diare. Gangguan seperti alergi pada kulit dapat berupa efek samping yang ringan berupa kemerahan, gatal-gatal, sampai pada gangguan berat berupa pembengkakan pada mata, lidah, atau wajah yang tentunya memerlukan penanganan lebih lanjut secara cepat. Beberapa efek samping lain, yang dapat muncul pada penggunaan jangka lama adalah infeksi jamur pada mulut dan saluran cerna, sebagai akibat dari gangguan kehidupan bakteri/flora normal oleh antibiotika. Efek lain yang paling berat dapat berkembang sampai terjadinya kesulitan pernafasan dikenal sebagai syok anafilaktik yang berakhir pada kematian jika terlambat penanganannya.

Pengaruh antibiotika terhadap organ tubuh Antibiotika, terutama yang diminum memengaruhi organ tubuh, baik langsung ataupun tidak langsung. Disamping pengaruh positif dalam penanganan penyakit infeksi/menular sebagai manfaat utamanya, antibiotika juga memilii pengaruh negatif terhadap sistem tubuh. Tetrasiklin misalnya, dapat mengakibatkan kerusakan gigi atau tulang jika penggunaannya tidak selektif, sehingga penggunaannya dihindari pada anak usia pertumbuhan.

Antibiotika kloramfenikol dapat menekan sum-sum tulang sehingga mengganggu pembentukan sel darah merah dan antibiotika golongan tertentu dapat mengakibatkan gejala hepatitis. Antibiotika golongan sulfa dapat memicu pembentukan batu oksalat di ginjal jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan/minuman asam.

Antibiotika kelompok aminoglikosida selain beresiko vertigo, kerusakan ginjal, dapat juga mengakibatkan ketulian. Beberapa pasien yang mengalami kelainan hati atau ginjal, perlu membatasi penggunaan dan memerlukan pemantauan lebih jauh. Sedangkan pada kehamilan dan menyusui pembatasan antibiotika sangat diperlukan karena dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandungnya.

Beberapa antibiotika ada yang direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang, seperti anti tuberkulosis. Penggunaan jangka panjang dengan pilihan obat, dosis, cara penggunan, dan jangka waktu penggunaan yang tepat tentunya telah mempertimbangkan besarnya manfaat yang didapatkan bagi pasien dibandingkan dengan resiko penggunaannya. Sebaliknya, konsumsi antibiotika secara tidak tepat dan tanpa pemantauan klinik dalam jangka panjang dapat berakibat buruk terhadap tubuh, terutama bagi anak-anak karena menekan kekebalan tubuh secara alami. Anak-anak menjadi lebih sensitif terhadap infeksi dan menjadi lebih mudah sakit, bahkan ada yang mengkaitkan dengan munculnya alergi di kemudian hari.

Secara nyata akibat lainnya adalah penundaan penanganan penyakit, sakit berkepanjangan, perawatan yang lebih lama, resiko penggunaan obat yang lebih banyak akibat perkembangan penyakit yang lebih kompleks dan akhirnya meningkatkan beban pembiayaan kesehatan.

Sampai saat ini belum ada tanaman obat yang dapat menggantikan antibiotika yang ada saat ini. Beberapa tanaman obat seperti kunyit, sirih, piduh memang memiliki efek antibiotika untuk beberapa mikroba penyebab penyakit secara laboratorium, namun memerlukan kajian lebih lanjut dan masih belum mampu menggantikan antibiotika yang sudah ada. Hal ini terutama dikaitkan dengan efektifitasnya sebagai antibakteri pada pasien belum dibuktikan. Mengingat sulitnya pengembangan antibiotika baru, perlu disadari bersama antara tenaga medis segera berhemat dalam penggunaan antibiotika dan juga kepada masyarakat untuk mengubah kebiasaannya menggunakan antibiotika tanpa resep terutama untuk penanganan batuk, pilek, diare yang belum tentu memerlukan antibiotika. Pengembangan antibiotika tersebut berpacu dengan kejadian resistensinya.