Quantum Sarana Medik issuu.com link
Quantum Sarana Medik Youtube Channel
Quantum Sarana Medik Instagram
Quantum Sarana Medik Twitter
Quantum Sarana Medik Facebook Page
Add Line Chat
Tentang Sistem Saraf Manusia
 14 Oktober, 2015


Bagaimana sih sitem saraf dalam tubuh manusia itu? dokter saraf yang praktik di lantai dua Klinik Quantum hari Senin sampai Jumat pukul 17.00-19.00, dr. I Nyoman Darsana, M. Biomed, Sp. S menjelaskan panjang lebar di Majalah Quantum Health yang terbit September lalu. Berikut ulasannya

.

Tubuh memiliki jaringan komunikasi yang menghubungkan jaringan satu dengan lainnya. Sistem komunikasi ini memiliki pusat pengendali yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Otak berfungsi sentral otomatis pada sistem telekomunikasi telepon. Sedangkan urat saraf atau tali saraf seperti kabel telepon. Pesan komunikasi yang diterima reseptor (penerima rangsang) diubah dan dikirim dalam bentuk impuls saraf.

Sistem saraf manusia dibagi menjadi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST). SSP terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Otak dilindungi oleh tengkorak sedangkan sumsum tulang dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang. SSP juga dilapisi oleh selaput pelindung yang disebut meningen ( piamater, arakhnoid dan duramater). Diantara lapisan arakhnoid dan piamater terdapat cairan otak atau cairan serebrospinal. SSP terdiri dari otak besar, otak kecil dan penghubungan antara otak dengan sumsum tulang belakang. Sedangkan SST merupakan penghubung antara saraf pusat dengan organ tubuh. Secara fisiologis sistem saraf dibagi menjadi sistem saraf sadar (somatik) dan sistem saraf tidak sadar (otonom). Sistem saraf sadar menghantarkan impuls berdasarkan kesadaran dan kemauan kita. Sistem saraf ini terdiri atas sistem saraf kranial yang terdiri dari 12 pasang saraf otak yang keluar dari otak menuju alat tubuh atau otot tertentu dan sistem saraf tulang belakang yang terdiri dari 31 pasang saraf sumsum tulang belakang yang keluar secara berpasangan dari sela-sela ruas tulang belakang.

Alat tubuh yang berfungsi penerima rangsang adalah indera yang memiliki ujung saraf yang peka terhadap rangsang tertentu. Rangsangan ini akan diteruskan ke pusat indera saraf pusat. Dari saraf pusat, reaksi atau tanggapan akan disampaikan ke efektor melalui saraf motorik. Efektor adalah organ atau jaringan yang bereaksi terhadap rangsangan misalnya otot atau kelenjar. Tanggapan dari efektor dapat berupa gerakan ucapan, dan sekresi kelenjar. Rangsangan adalah perubahan dari lingkungan yang diterima reseptor. Ada rangsangan dari luar tubuh (suhu, cahaya,suara bau, dll.) dan rangsangan dari dalam tubuh ( rasa lapar, haus, nyeri dll.). Menurut jenisnya rangsangan ada rangsang mekanis (sentuhan, tekanan, dll), kimia (rasa manis, pahit, asam dll.) dan fisik (suhu, gravitasi, listrik, dll).

Sel saraf (neuron) adalah sel yang peka terhadap rangsang dan mampu menghantarkan rangsang. Bentuk dan ukuran sel saraf tergantung letak dan fungsinya dalam tubuh. Strukturnya terdiri badan sel sebagai pengendalai kerja saraf, dendrit yang berfungsi untuk penerima dan penghantar impuls saraf dari luar ke sel saraf dan neurit (serabut saraf) yang merupakan juluran yang panjang dari badan sel yang berfungsi untuk menghantarkan rangsangan dari badan sel ke sel saraf yang lain.

Gejala-gejala gangguan saraf

1. Kehilangan kesadaran

2. Nyeri kepala

3. Kelainan neurologik batang otak

4. Vertigo

5. Gangguan visual

6. Gangguan neurobehaviour

7. Gangguan gerak.


Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem saraf:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan sel saraf mulai dari masa dalam kandungan. Sebagai contoh pentingnya asam folat dalam pertumbuhan kantong saraf (neuronal tube) selama perkembangan janin. Kelainan genetik tertentu dapat menimbulkan gejala atau penyakit yang berhubungan dengan sistem saraf.

2. Faktor- faktor yang diperlukan dalam pemeliharaan sel saraf agar dapat berfungsi secara baik. Sebagai contoh keperluan nutrisi, baik oksigen dan glukosa. Sehingga semua kondisi yang menyebabkan nutrisi sel berkurang atau berhenti dapat mengganggu sel saraf.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup sel saraf. Semua faktor yang menyebabkan sel saraf mengalami cedera ataupun kematian seperti trauma pada saraf, gangguan pembuluh darah, kelainan autoimun, infeksi, metabolik, kelainan endokrin obat-obatan, tumor dan lain-lain akan mempengaruhi kerja sel saraf.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan, penghantaran maupun pengolahan impuls saraf. Sebagai contoh untuk membentuk impuls saraf dalam bentuk potensial aksi listrik dibutuhkan peranan elektrolit. Kekurangan kadar elektrolit tertentu akan mempengaruhi pembentukan impuls saraf.

Beberapa kelainan yang berhubungan dengan sistem saraf:

1. Kelainan pembuluh darah otak misalnya Stroke hemoragik, stroke non hemoragik

2. Kelainan infeksi sistem saraf

3. Kelainan autoimun seperti miastenia gravis, Guillain Barre, serebral lupus dll.

4. Kelainan degeneratif seperti Parkinson, ALS,dll.

5. Kelainan metabolik

6. Trauma

7. Tumor


Warning: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'crunchify_disable_comment_url' not found or invalid function name in /home/k7792441/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php on line 286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *